Just another WordPress.com site

Latest

SEJARAH BERDIRINYA ISTIGHOTSAH ” YAMISDA ” AL IHSAN JAMPES

SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA ISTIGHOTSAH ” YAMISDA ” AL IHSAN JAMPES KEDIRI

Berawal dari cletukan KH. Abd Malik Ihsan jampes selaku shohibul ijazah Istighotsah “YAMISDA” dalam suasana berkumpul dengan putra-putra beliau,” Aku akan membuat kumpulan wirid ya ?” yai Malik dawuh kepada putra-putranya..” Silahkan Pi..” jawab putra beliau,akhirya yai Malik menyuruh salah satu santri beliu yang ada di farum tersebut untuk menulis wirid apa yang akan di baca. Mulai dari hadroh fatikhah sampai pada tahlil Nabiyulloh Khidir di teruskan bacaan dzikir istighotsah ” YAMISDA “.

Pada waktu akhir bacaan istighotsah yai Malik bertanya kepada hadirin,” Enaknya akhir isthigotsah yang di baca apa,sholawat atau kalimah tahlil ” Lailaihaillalloh “?”,salah satu putra beliau, KH. Ujang Ihsan menjawab ” Tahlil saja Pi,bisa di ” lagu”kan membacanya”, akhirnya usul Gus Ujang di setujui oleh semua dan di putuskanlah bacaan istighhotsah di akhiri dengan kalimah tahlil” Lailahaillalloh 333 x ” ” sholawat 3x ” dan do’a.

Mengenai bilangan kalimah tahlil yang di baca,KH. Ujang Ihsan berkata,” sebenarnya banyaknya yang di baca 6000x,tapi di pertimbangkan kepada para jama’ah akhirnya di putuskan menjadi 313x kalau di buat jama’ah orang banyak,kalau di buat wirid sendirian cukup 33x dan bilangannya kalimah tahlil ” Lailahaillalloh ” masih menurut KH. Ujang Ihsan adalah,33x / 111x / 333x / 777x/1000x / 6000x.

Tercetusnya ” YAMISDA ” sebagai nama istighotsah yang di pilih, kata Gus Ujang ” Pada waktu setelah penulisan kumpulan wirid yai Malik, yai Malik berkata ” Enaknya wirid ini di namakan apa? “..para hadirin semua belum bisa membuat nama yang sesuai dengan kumpulan wirid yai Malik tersebut, Akhirnya yai Malik besoknya ziaroh ke makam sunan Ampel surabaya. Sekembalinya yai Malik dari Ampel di putuskan nama untuk wirid tersebut kumpulan dari nama-nama leluhur PONPES. AL IHSAN JAMPES KEDIRI, seperti Syech Ihsan,Syech Dahlan,Nyai Istianah dll. Akhirnya di putuskanlah ” YAMISDA ” sebagai nama kumpulan wirid KH. Abdul Mlaik Ihsan jampes. YA = KH. Yahudho ( tokoh ulama’ karismatik daerah pacitan ) M = KH. Mesir Trenggalek, I = Nyai Isti’anah jampes kediri, S = K. Sholeh ( ujang sholeh ), D = KH. Moch Dahlan ( abah Syech Ihsan jampes pengarang kitab Sirojut Tholibin ), A = Syech Ihsan Jampes kediri.

Kata “istighotsah” استغاثة berasal dari “al-ghouts”الغوث yang berarti pertolongan. Dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan) “istaf’ala” استفعل atau “istif’al” menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. jadi ISTIGHOTSAH YAMISDA adalah kumpulan bacaan dzikir / wirid untuk memohon pertolongan kepada Alloh Azza wa Jalla agar apa yang menjadi hajat kita di kabulkan oleh Alloh SWT.

NGROWOT PUASA ORANG JAWA

Ngrowot adalah salah satu tirakatnya orang jawa selain mutih,ngebleng dan lain sebagainya. Ngrowot atau puasa ngrowot di jalankan sebagaian orang jawa untuk mensukseskan suatu hajat atau cita-cita,agar apa yang menjadi maksud dan tujuan si pelaku di kabulkan oleh sang maha pencipta. Sebenarnya dalam agama islam tidak ada istilah ngrowot atau puasa ngrowot,tetapi para ulama’ salaf dahulu banyak yang menjalankan cara riyadhoh ini. contohnya : imam al ghozaly dan lain sebagainya,mungkin istilah zaman modern ini ngrowot bisa di katagorikan Vagetarian karena ngrowot adalah menghindarkan dari makan makanan pokok,seperti nasi bagi umumnya wilayah indonesia,gandum bagi orang arab dll.

Menurut guru kami,KH. Abdul Hannan Maksum pengasuh PonPes Fatkhul Ulum Kwageyan Pare Kab.Kediri bahwa ngrowot yaitu meninggalkan makanan pokok.biasanya di ganti makan umbi-umbian,sayur mayur,mie dll.Dan menurut sebagian ulama’ puasa ngrowot berfadhilah membersihkan hati dan pikiran,memudahkan dalam menerima pelajaran.

SEJARAH AL-BARZANJI

 SEJARAH AL-BARZANJI

Al-Barzanji atau Berzanji adalah suatu do’a-do’a, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad saw yakni silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga diangkat menjadi rasul. Didalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya, seorang sufi bernama Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al – Barzanji. Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang termasyur dan terkenal dengan nama Mawlid Al-Barzanji. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (kalung permata) atau ‘Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar. Barzanji sebenarnya adalah nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzanj. Nama Al-Barzanji menjadi populer tahun 1920-an ketika Syaikh Mahmud Al-Barzanji memimpin pemberontakan nasional Kurdi terhadap Inggris yang pada waktu itu menguasai Irak.

Kitab Maulid Al-Barzanji karangan beliau ini termasuk salah satu kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Arab dan Islam, baik Timur maupun Barat. Bahkan banyak kalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam acara-acara keagamaan yang sesuai. Kandungannya merupakan Khulasah (ringkasan) Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagai rasul, hijrah, akhlaq, peperangan hingga wafatnya. Syaikh Ja’far Al-Barzanji dilahirkan pada hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 di Madinah Al-Munawwaroh dan wafat pada hari Selasa, selepas Asar, 4 Sya’ban tahun 1177 H di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqam beliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi saw.

Sayyid Ja’far Al-Barzanji adalah seorang ulama’ besar keturunan Nabi Muhammad saw dari keluarga Sa’adah Al Barzanji yang termasyur, berasal dari Barzanj di Irak. Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah.

Nama nasabnya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a.

Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi. Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah.

Syaikh Ja’far Al-Barzanji juga seorang Qodhi (hakim) dari madzhab Maliki yang bermukim di Madinah, merupakan salah seorang keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-Saharzuri Al-Barzanji (1040-1103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari madzhab Syafi’i di Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Di sana beliau telah belajar dari ulama’-ulama’ terkenal, diantaranya Syaikh Athaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Thanthowi Al-Ahmadi, Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebahagian ulama’, antaranya : Syaikh Muhammad At-Thoyib Al-Fasi, Sayid Muhammad At-Thobari, Syaikh Muhammad ibn Hasan Al A’jimi, Sayid Musthofa Al-Bakri, Syaikh Abdullah As-Syubrawi Al-Misri.

Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada musim-musim kemarau.

Historisitas Al-Barzanji tidak dapat dipisahkan dengan momentum besar perihal peringatan maulid Nabi Muhammad saw untuk yang pertama kali. Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad saw pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.

Kita mengenal itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.

Adalah Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi -dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub- katakanlah dia setingkat Gubernur. Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Sebenarnya hal itu bukan gagasan murni Salahuddin, melainkan usul dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi yang menjadi Atabeg (setingkat Bupati) di Irbil, Suriah Utara. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin di istananya sering menyelenggarakan peringatan maulid nabi, cuma perayaannya bersifat lokal dan tidak setiap tahun. Adapun Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata Khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H / 1183 M, Salahuddin sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 / 1184 M tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang di prakarsai oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.

Kitab Al-Barzanji ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meningkatkan gairah umat. Dalam kitab itu riwayat Nabi saw dilukiskan dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi dan prosa (nasr) dan kasidah yang sangat menarik. Secara garis besar, paparan Al-Barzanji dapat diringkas sebagai berikut: (1) Sislilah Nabi adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kitab bin Murrah bin Fihr bin Malik bin Nadar bin Nizar bin Maiad bin Adnan. (2) Pada masa kecil banyak kelihatan luar biasa pada dirinya. (3) Berniaga ke Syam (Suraih) ikut pamannya ketika masih berusia 12 tahun. (4) Menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun. (5) Diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, dan mulai menyiarkan agama sejak saat itu hingga umur 62 tahun. Rasulullah meninggal di Madinah setelah dakwahnya dianggap telah sempurna oleh Allah SWT.

Dalam Barzanji diceritakan bahwa kelahiran kekasih Allah ini ditandai dengan banyak peristiwa ajaib yang terjadi saat itu, sebagai genderang tentang kenabiannya dan pemberitahuan bahwa Nabi Muhammad adalah pilihan Allah. Saat Nabi Muhammad dilahirkan tangannya menyentuh lantai dan kepalanya mendongak ke arah langit, dalam riwayat yang lain dikisahkan Muhammad dilahirkan langsung bersujud, pada saat yang bersamaan itu pula istana Raja Kisrawiyah retak terguncang hingga empat belas berandanya terjatuh. Maka, Kerajaan Kisra pun porak poranda. Bahkan, dengan lahirnya Nabi Muhammad ke muka bumi mampu memadamkan api sesembahan Kerajaan Persi yang diyakini tak bisa dipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun.

Keagungan akhlaknya tergambarkan dalam setiap prilaku beliau sehari-hari. Sekitar umur tiga puluh lima tahun, beliau mampu mendamaikan beberapa kabilah dalam hal peletakan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Di tengah masing-masing kabilah yang bersitegang mengaku dirinya yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Rasulullah tampil justru tidak mengutamakan dirinya sendiri, melainkan bersikap akomodatif dengan meminta kepada setiap kabilah untuk memegang setiap ujung sorban yang ia letakan di atasnya Hajar Aswad. Keempat perwakilan kabilah itu pun lalu mengangkat sorban berisi Hajar Aswad, dan Rasulullah kemudian mengambilnya lalu meletakkannya di Ka’bah.

Kisah lain yang juga bisa dijadikan teladan adalah pada suatu pengajian seorang sahabat datang terlambat, lalu ia tidak mendapati ruang kosong untuk duduk. Bahkan, ia minta kepada sahabat yang lain untuk menggeser tempat duduknya, namun tak ada satu pun yang mau. Di tengah kebingungannya, Rasulullah saw memanggil sahabat tersebut dan memintanya duduk di sampingnya.. Tidak hanya itu, Rasul kemudian melipat sorbannya lalu memberikannya pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Melihat keagungan akhlak Nabi Muhammad, sahabat tersebut dengan berlinangan air mata lalu menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk, tetapi justru mencium sorban Nabi Muhammad saw tersebut.

Bacaan shalawat dan pujian kepada Rasulullah bergema saat kita membacakan Barzanji di acara peringatan maulid Nabi Mauhammad saw, Ya Nabi salâm ‘alaika, Ya Rasûl salâm ‘alaika, Ya Habîb salâm ‘alaika, ShalawatulLâh ‘alaika… (Wahai Nabi salam untukmu, Wahai Rasul salam untukmu, Wahai Kekasih salam untukmu, Shalawat Allah kepadamu…)

Kemudian, apa tujuan dari peringatan maulid Nabi dan bacaan shalawat serta pujian kepada Rasulullah? Dr. Sa’id Ramadlan Al-Bûthi menulis dalam Kitab Fiqh Al-Sîrah Al-Nabawiyyah: “Tujuannya tidak hanya untuk sekedar mengetahui perjalanan Nabi dari sisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan aplikatif yang menggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi Muhammad saw.”

Sarjana Jerman peneliti Islam, Annemarie Schimmel dalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam (1991), , menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far Al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair, sebentuk eulogy bagi Sang Nabi. Pancaran kharisma Nabi Muhammad saw terpantul pula dalam sejumlah puisi, yang termasyhur: Seuntai gita untuk pribadi utama, yang didendangkan dari masa ke masa.

Untaian syair itulah yang tersebar ke berbagai negeri di Asia dan Afrika, tak terkecuali Indonesia. Tidak tertinggal oleh umat Islam penutur bahasa Swahili di Afrika atau penutur bahasa Urdu di India, kita pun dapat membaca versi bahasa Indonesia dari syair itu, meski kekuatan puitis yang terkandung dalam bahasa Arab kiranya belum sepenuhnya terwadahi dalam bahasa kita sejauh ini.

Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa karya Ja’far Al-Barzanji merupakan biografi puitis Nabi Muhammad saw. Dalam garis besarnya, karya ini terbagi dua: ‘Natsar’ dan ‘Nadhom’. Bagian Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi “ah” pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya menurutkan riwayat Nabi Muhammad saw, mulai dari saat-saat menjelang beliau dilahirkan hingga masa-masa tatkala paduka mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nadhom terdiri atas 16 sub bagian yang memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir “nun”.

Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Dalam bagian Nadhom misalnya, antara lain diungkapkan sapaan kepada Nabi pujaan” Engkau mentari, Engkau rebulan dan Engkau cahaya di atas cahaya“.

Di antara idiom-idiom yang terdapat dalam karya ini, banyak yang dipungut dari alam raya seperti matahari, bulan, purnama, cahaya, satwa, batu, dan lain-lain. Idiom-idiom seperti itu diolah sedemikian rupa, bahkan disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlah besar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya, dilukiskan sebagai “Untaian Mutiara”.

Betapapun, kita dapat melihat teks seperti ini sebagai tutur kata yang lahir dari perspektif penyair. Pokok-pokok tuturannya sendiri, terutama menyangkut riwayat Sang Nabi, terasa berpegang erat pada Alquran, hadist, dan sirah nabawiyyah. Sang penyair kemudian mencurahkan kembali rincian kejadian dalam sejarah ke dalam wadah puisi, diperkaya dengan imajinasi puitis, sehingga pembaca dapat merasakan madah yang indah.

Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengan karya Ja’far Al-Barzanji adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya ini kiranya telah ikut membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungan dengan cara umat Islam diberbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan Nabi Muhammad saw.

Kitab Maulid Al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-’Allaamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H dengan satu syarah yang memadai, cukup elok dan bermanfaat yang dinamakan ‘Al-Qawl Al-Munji ‘ala Mawlid Al-Barzanji’ yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir.

Di samping itu, telah disyarahkan pula oleh para ulama kenamaan umat ini. Antara yang masyhur mensyarahkannya ialah Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy Al-Maaliki Al-’Asy’ari Asy-Syadzili Al-Azhari dengan kitab ’Al-Qawl Al-Munji ‘ala Maulid Al-Barzanji’. Beliau ini adalah seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah Asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H / 1802M dan wafat pada tahun 1299 H / 1882M.

Ulama kita kelahiran Banten, Pulau Jawa, yang terkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya, yaitu Sayyidul Ulamail Hijaz, An-Nawawi Ats-Tsani, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi turut menulis syarah yang lathifah bagi Maulid al-Barzanji dan karangannya itu dinamakannya ‘Madaarijush Shu`uud ila Iktisaail Buruud’. Kemudian, Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami kepada satu-satunya anak Sayyid Ja’far al-Barzanji, juga telah menulis syarah bagi Maulid Al-Barzanj tersebut yang dinamakannya ‘Al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Maulidin Nabiyil Azhar’. Sayyid Ja’far ini juga adalah seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah. Karangan-karangan beliau banyak, antaranya: “Syawaahidul Ghufraan ‘ala Jaliyal Ahzan fi Fadhaail Ramadhan”, “Mashaabiihul Ghurar ‘ala Jaliyal Kadar” dan “Taajul Ibtihaaj ‘ala Dhauil Wahhaaj fi Israa` wal Mi’raaj”. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian nendanya Sayyid Ja’far Al-Barzanji dalam kitabnya “Ar-Raudhul A’thar fi Manaqib As-Sayyid Ja’far”.

Kitab Al-Barzanji dalam bahasa aslinya (Arab) dibacakan dalam berbagai macam lagu; rekby (dibaca perlahan), hejas (dibaca lebih keras dari rekby ), ras (lebih tinggi dari nadanya dengan irama yang beraneka ragam), husein (memebacanya dengan tekanan suara yang tenang), nakwan membaca dengan suara tinggi tapi nadanya sama dengan nada ras, dan masyry, yaitu dilagukan dengan suara yang lembut serta dibarengi dengan perasaan yang dalam

Di berbagai belahan Dunia Islam, syair Barzanji lazimnya dibacakan dalam kesempatan memeringati hari kelahiran Sang Nabi. Dengan mengingat-ingat riwayat Sang Nabi, seraya memanjatkan shalawat serta salam untuknya, orang berharap mendapat berkah keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman. Sudah lazim pula, tak terkecuali di negeri kita, syair Barzanji didendangkan – biasanya, dalam bentuk standing ovation – dikala menyambut bayi yang baru lahir dan mencukur rambutnya.

Pada perkembangan berikutnya, pembacaan Barzanji dilakukan di berbagai kesempatan sebagai sebuah pengharapan untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik. Misalnya pada saat kelahiran bayi, upacara pemberian nama, mencukur rambut bayi, aqiqah, khitanan, pernikahan, syukuran, kematian (haul), serta seseorang yang berangkat haji dan selama berada disana. Ada juga yang hanya membaca Barzanji dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadhrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan lain-lain, dan puncaknya ialah mau’idhah hasanah dari para muballigh atau da’i.

Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan warga Nahdlatul Ulama (NU). Hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal kalender hijriyah (Maulud). Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakda Mulud). Ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam.

Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’idhah hasanah pada acara temanten dan mauludan.

Dalam ‘Madarirushu’ud Syarhul’ Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syafa’at kepadanya di hari kiamat.” Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”


Biografi Pengarang Kitab Maulid Diba’i (Al-Imam Al-Jalil Abdurrahman Ad-Diba’i)

oleh Luqman Firmansyah

Satu karya maulid yang masyhur dalam dunia Islam ialah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i.

Beliau dilahirkan pada 4 Muharram tahun 866H dan wafat hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada bandingnya pada masa hayatnya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau akan mengajar hadits dari masjid ke masjid. Di antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain daripada itu, beliau juga seorang muarrikh, yakni ahli sejarah, yang terbilang.

Beliau dilahirkan di kota Zabid (Zabid (salah satu kota di Yaman Utara) pada sore hari Kamis 4 Muharram 866 H.) Kota ini sudah dikenal sejak masa hidupnya Nabi Muhammad SAW., tepatnya pada tahun ke 8 Hijriyah. Dimana saat itu datanglah rombongan suku Asy`ariah (diantaranya adalah Abu Musa Al-Asy`ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al-Munawwaroh untuk memeluk agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya atas kedatangan mereka Nabi Muhammad SAW. berdoa memohon semoga Allah SWT. memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR. Al-Baihaqi). Dan berkat barokah doa Nabi, hingga saat ini, nuansa tradisi keilmuan di Zabid masih bisa dirasakan. Hal ini karena generasi ulama di kota ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan islam.

Masa Kecil Ibn Diba`i

Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu, hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian, setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar, bahwa ayahnya meninggal didaratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para ulama kota Zabid ad-Diba’i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dipelajari beliau adalah: ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari Ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih.

Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah Ibn Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho` dibawah bimbingan syekh Zainuddin Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Ditengah-tengah sibuknya belajar hadis, Ibn Diba’ menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.

Pelajaran penting dari ad-diba’i

Ibn Diba’ mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al-fatihah dan menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al-fatihah. Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi bahwa hari kiamat telah datang lalu dia mendengar suara “ wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah” lalu orang –orang bertanya “kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” kemudian dijawab, karena mereka sering membaca surat Al-fatihah.

Karya ad-diba’i

Ibn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik dibidang hadis ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i,

Diantara buah karyanya yang lain : Qurrotul `Uyun yang membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul, Bughyatul Mustafid dan beberapa bait syair. Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab. Ibn Diba’I wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 Hdan pengarang kitab. Ibn Diba’I wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rajab 944 H

Sejarah Whing Cun

Sejarah Wing Chun Kuen

Diterjemahkan dari buku “Wing Tsun Kuen”
Oleh: Master Leung Ting
10th Level M.O.C
©Copyright 1978, International Wing Tsun Leung Ting Martial-Art Association,
International Headquarters, Hong Kong

Peristiwa Dibakarnya Kuil Shao Lin

Pada masa Cina dijajah oleh bangsa Manchuria (Dinasti Ching), saat Kaisar Yung Cheng1 berkuasa (1723-1736), terjadi peristiwa dibakarnya Kuil Shao Lin, yang berada di Gunung Sung, Propinsi Honan. Peristiwa tersebut terjadi sekitar 300 tahun yang lalu, saat kuil ini sedang dikepung oleh tentara pemerintah Manchuria.

Saat itu pemerintahan Manchuria takut akan perkembangan kung fu di Kuil Shao Lin yang semakin lama semakin kuat dan juga karena kuil ini dianggap sebagai pusat gerakan pemberontakan2 melawan penjajah Manchuria. Pemerintah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Chan Man Yiu, Wong Chun May, dan Cheung King Chow untuk menyerang kuil ini. Serangan demi serangan selalu mengalami kegagalan. Chan Man Yiu kemudian bekerja sama dengan para pengkhianat dari Kuil Shao Lin, salah satunya adalah Pendeta Ma Ning Yee, dan membakar Kuil Shao Lin secara diam-diam. Banyak penghuni Shao Lin, pendeta, murid calon pendeta, maupun murid-murid yang bukan calon pendeta mati terbakar. Walaupun demikian tidak semuanya mati, beberapa berhasil lolos dari peristiwa ini. Mereka yang berhasil lolos di antaranya adalah Pendeta Wanita Ng Mui, Pendeta Chi Sin, Pendeta Pak Mei, Master Fung To Tak, dan Master Miu Hin3, dan juga beberapa orang murid, yang paling terkenal di antaranya adalah Hung Hay Kwun (Hung Si Kuan), Fong Sai Yuk (Fang Se Yu)4, Luk Ah Choy, dan lain-lainnya. Kelima pendeta/master ini adalah lima guru yang mewakili lima gaya kung fu Shao Lin.

Pendeta Chi Sin yang mempunyai murid paling banyak memimpin pelawanan terhadap pemerintahan Manchuria. Pendeta ini bersama dengan beberapa orang murid kesayangannya, yaitu Hung Hay Kwun, Tung Chin Kun, dan Tse Ah Fook, menjadi buronan pemerintah. Agar tidak tertangkap, Pendeta Chi Sin memerintahkan murid-muridnya untuk menyamar, lalu ia sendiri menyamar menjadi juru masak di Perahu Merah/The Red Junk5. Sementara itu Master Miu Hin, anaknya perempuannya, Miu Tsui Fa, dan cucunya, Fong Sai Yuk, bersembunyi untuk sementara waktu di kalangan suku minoritas Miao dan Yao, yang berlokasi di antara propinsi Sze Chuan dan Yunnan. Mereka kemudian berkeliling dan melakukan banyak hal sehingga melahirkan legenda-legenda fantastis, di antaranya adalah “Fong Sai Yuk menantang sang juara bertahan turnamen kung fu”.

Pendeta Wanita Ng Mui adalah satu-satunya master wanita dari Shao Lin dan yang tertua dari kelima master tersebut. Ia lebih toleran terhadap pemerintah Manchuria daripada keempat saudara seperguruannya ini. Walaupun demikian kadang-kadang ia juga menggunakan kung fu-nya untuk menegakkan keadilan. Ng Mui pergi berkeliling Cina, perjalanannya ini melahirkan legenda “Ng Mui membunuh Lee Pa Shan di hamparan bunga plum6″. Ia lalu mengundurkan diri dan bersumpah untuk tidak terlibat lagi dalam peristiwa-peristiwa kekerasan. Ia kemudian menetap di Kuil Bangau Putih yang terletak di gunung Tai Leung (juga disebut gunung Chai Ha), di antara propinsi Yunnan dan Sze Chuan. Ia berkonsentrasi mendalami Zen Buddhisme, sebuah sekte Buddha yang dikembangkan oleh Bodhidharma7, dan juga ilmu kung fu sebagai hobby yang amat disukainya. Ng Mui, seperti juga yang lainnya, tidak pernah melupakan pengalaman pahit peristiwa kebakaran dan pengkhianatan di Kuil Shao Lin. Ia juga khawatir akan pengejaran yang dilakukan oleh para pengkhianat dan pasukan pemerintah Manchuria. Ia sadar akan kesulitan yang akan dialaminya jika suatu saat bertemu dengan para pengkhianat yang juga telah menguasai ilmu bela diri Shao Lin tersebut. Ia sadar bahwa pengetahuan teoritis bela dirinya sejajar dengan mereka, dan suatu saat kemampuan fisiknya akan kalah dengan para pengkhianat yang jauh lebih muda darinya. Untuk mengatasi hal ini, cara satu-satunya adalah dengan menciptakan sebuah teknik bertarung baru yang mampu mengatasi teknik-teknik bertarung Shao Lin. Pertanyaannya adalah apa teknik baru itu dan bagaimana menciptakannya?

Lahirnya Teknik Bertarung Baru

Suatu saat Ng Mui menyaksikan pertarungan antara seekor rubah dan seekor bangau liar besar. Rubah itu berjalan mengitari bangau mencari kesempatan untuk menyerang, sementara bangau diam di tengah dan berputar-putar untuk menghadapi rubah. Setiap kali rubah menyerang dengan cakarnya, bangau menghalau dengan sayapnya dan pada saat yang sama balik menyerang dengan paruhnya. Rubah tersebut memanfaatkan kelincahannya untuk menghindar dan menyerang tiba-tiba dengan cakarnya. Demikian perkelahian ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama hingga Ng Mui mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan teknik pertarungan baru. Siapa di antara bangau dan rubah yang menjadi pemenang tidaklah penting. Ng Mui berkonsentrasi untuk menyesuaikan gerakan cakar rubah dan sayap bangau menjadi gerakan manusia. Ia berhasil menciptakan satu set gerakan tempur yang tetap mempertahankan gerakan rubah dan bangau tetapi sesuai dengan gerakan manusia.

Gerakan kung fu Shao Lin yang menitik beratkan pada suatu pola tetap, terlalu rumit untuk Ng Mui. Dalam teknik barunya ini ia menitikberatkan pada kesederhanaan gerak dan keanekaragaman kegunaan. Hal ini cukup menyimpang dari teknik-teknik Shao Lin. Dengan kata lain, dari sepuluh set atau lebih gerakan Shao Lin, satu dan lainnya hanya berbeda sedikit, hanya akan memberikan latihan stereotip bagi para anak didik. Sistem baru ciptan Ng Mui ini terdiri dari beberapa gerakan sederhana yang digabungkan, dan setelah mengalami beberapa perbaikan dan penyempurnaan, dibagi menjadi tiga jurus dan satu set gerakan berlatih menggunakan “orang-orangan kayu”. Terlebih lagi dalam gaya Shao Lin, banyak gerakan yang memiliki pose menarik dan nama yang indah, seperti “Tarian Naga dan Pheonix”, “Tongkat Master Tao”, dan “Singa Keluar Dari Gua”, tetapi dalam pertempuran yang sesungguhnya tidak dapat diprektekkan. Kebalikannya, dalam teknik baru ini, setiap gerakan adalah gerakan tempur yang sesungguhnya dan sangat praktis. Sudah tidak ada lagi gerakan-gerakan dan pose-pose indah yang hanya berguna untuk menarik perhatian. Gerakan-gerakan ini memiliki nama-nama yang sesuai dengan kegunaan dan bentuk gerakannya, seperti “Telapak Tangan Menghadap Ke Atas”, sebuah nama yang sangat jelas menunjukkan gerak tangan yang diwakilinya.

Perbedaan lainnya adalah dalam teknik Shao Lin terlalu banyak menekankan latihan fisik. Seorang murid harus berlatih kuda-kuda yang kuat selama dua atau tiga tahun sebelum ia dapat melanjutkan pelajaran. Dalam teknik barunya, Ng Mui lebih menekankan penggunaan metode dalam mengalahkan musuh daripada dengan menggunakan kekuatan. Memang dalam metode ini perlu juga melatih kekuatan, tetapi dalam pertempuran yang sesungguhnya, yang terpenting adalah menerapkan metode yang tepat untuk masing-masing keadaan, dan juga untuk masing-masing lawan. Untuk keperluan ini, para pengikut akan dibekali dengan beragam teknik gerakan tangan, kuda-kuda, dan gerak langkah yang fleksibel. Dengan kata lain, dalam pertempuran yang sesungguhnya, gaya Shao Lin akan menggunakan gerakan tangan dan kuda-kuda lebar, sementara teknik baru ini akan menggunakan langkah kaki yang mengejar dan teknik bertempur jarak dekat. Dalam gaya Shaolin, kuda-kuda yang paling sering digunakan adalah “kaki depan sebagai busur dan kaki belakang sebagai anak panah” atau disebut juga kuda-kuda depan, sementara dalam teknik baru ini menggunakan kuda-kuda “kaki depan sebagai anak panah dan kaki belakang sebagai busur” atau disebut juga kuda-kuda belakang. Kuda-kuda belakang ini memungkinkan diterapkannya teknik “tendangan menghujam ke depan” yang cepat untuk menyerang tempurung lutut orang-orang yang menggunakan kuda-kuda depan, dan dapat mundur dengan cepat, jika kaki depannya sendiri diserang.Teknik baru ini akhirnya membuktikan ketidakefektifan gaya-gaya lebar Shao Lin.

Yim Wing Chun Yang Jelita

Nona Yim Wing Chun adalah penduduk asli propinsi Kwang Tung. Setelah ibunya meninggal, ia tinggal berdua dengan ayahnya, Yim Yee. Sejak kecil ia telah dijodohkan dengan Leung Bok Chao, seorang pedagang garam dari propinsi Fu Kien (Hok Kian). Sebagai murid Shao Lin, Yim Yee berusaha menggunakan kung fu-nya untuk menegakkan keadilan. Dengan demikian ia sering terlibat dalam urusan pengadilan. Agar tak ditangkap, ia mengajak anak perempuannya melarikan diri ke perbatasan antara propinsi Yunnan dan Sze Chuan dan menetap di kaki gunung Tai Leung. Mereka hidup dari hasil penjualan tahu di pasar. Yim Wing Chun tumbuh menjadi seorang gadis lincah, dan cantik. Keatraktifannya ini akan mengakibatkan masalah di kemudian hari.

Ada seorang preman lokal bermarga Wong yang terkenal bertabiat buruk. Karena kemampuan kung fu-nya dan juga karena tangan hukum begitu lemahnya di daerah terpencil ini, ia ditakuti oleh penduduk setempat. Karena tertarik dengan kecantikan Yim Wing Chun, ia mengirimkan perantara untuk melamar gadis ini, dengan ancaman jika ditolak, ia akan memaksa Wing Chun menikahinya. Ayah Wing Chun sudah tua dan Wing Chun sendiri adalah gadis yang lemah. Oleh karena itu mereka sangat khawatir dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sementara itu, Pendeta Wanita Ng Mui, yang tinggal dekat desa ini, sering mengunjungi pasar desa. Setiap kali ia lewat di kios tahu Yim Yee, ia selalu mampir dan berbelanja. Dengan demikian, mereka menjadi saling mengenal. Suatu hari, saat ia berbelanja, ia memperhatikan ada sesuatu yang tidak biasa pada ekspresi ayah dan anak ini. Ketika ditanyakan, mereka menceritakan masalah tersebut kepada Ng Mui. Pengakuan ini membangkitkan kembali rasa keadilan dalam diri Ng Mui yang sudah lama dipendam. Ia memutuskan untuk membantu Yim Wing Chun, tetapi tidak dengan melawan Wong, suatu hal yang pasti dilakukannya sebelum mengundurkan diri. Alasannya adalah bahwa ia tidak ingin menunjukkan identitas aslinya sebagai pendekar Shao Lin, dan juga karena tidak layak baginya, sebagai seorang ahli bela diri terkenal dari Shao Lin, bertarung melawan preman tak ternama dari sebuah desa terpencil. Ia memutuskan untuk mengajari teknik bela diri ciptaannya kepada Yim Wing Chun. Bagi Wing Chun sendiri, ilmu bela diri bukan sesuatu yang aneh, karena ayahnya adalah murid Shao Lin. Selama ini Wing Chun merasa belum perlu mempelajari ilmu ayahnya. Kini dengan panduan Ng Mui, sang master wanita dari Shao Lin, dan juga karena kepandaian dan kerja kerasnya, ia berhasil menguasai teknik ini dalam waktu tiga tahun.

Pada suatu hari Ng Mui memberitahu bahwa Wing Chun sudah menguasai semua teknik-teknik ciptaannya dan diperbolehkan kembali ke rumah ayahnya dan menyelesaikan masalah dengan Wong. Sekembalinya ia ke rumah ayahnya, preman tersebut mulai menggodanya lagi. Kali ini Wing Chun menantangnya berkelahi. Wong terkejut, tetapi menerima tantangan ini. Ia sangat yakin dapat mengalahkan Wing Chun dan menikahinya, tetapi dalam pertarungan tersebut ia dikalahkan oleh Wing Chun. Sejak saat itu, Wong tak berani lagi mengganggu Wing Chun. Setelah peristiwa ini, Wing Chun terus berlatih teknik ini, tetapi Ng Mui merasa kehidupan di kaki gunung Tai Leung terlalu monoton dan pergi berkelana. Ia berpesan pada Wing Chun untuk menjaga peraturan Shao Lin dan berhati-hati dalam meneruskan teknik ini agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tak pantas.

Sejarah Wing Chun Kuen

Halaman 2

Leung Bok Chao Dan Leung Lan Kwai

Yim Wing Chun akhirnya menikah dengan tunangannya Leung Bok Chau. Ia berhasil menurunkan teknik yang dipelajarinya dari Ng Mui ini kepada suaminya. Leung Bok Chao sendiri pernah mempelajari bela diri, dan rajin berlatih di waktu senggangnya. Setelah pernikahan mereka, Wing Chun sering berdiskusi dengannya tentang teknik-teknik pertarungan. Awalnya ia meremehkan Wing Chun, karena menganggap Wing Chun adalah wanita yang lemah. tetapi Wing Chun berhasil memperoleh kesempatan untuk berlatih dengan suaminya dan berhasil mengalahkannya setiap kali mereka berlatih. Leung Bok Chao pun akhirnya sadar bahwa Wing Chun bukanlah seorang wanita lemah, tetapi seorang ahli seni bela diri. Sejak saat itu ia mengagumi teknik istrinya dan sering berlatih berdua. Ia menyebut teknik ini “Wing Chun Kuen” untuk menghormati istrinya.

Leung Bok Chao kemudian meneruskan teknik Wing Chun Kuen ini kepada Leung Lan Kwai, seorang tabib ahli tulang yang tidak pernah menonjolkan kemampuannya dalam bela diri. Bahkan keluarga dan sahabat-sahabatnya tidak mengetahui akan keahliannya dalam Wing Chun Kuen ini. Rahasia ini hanya sekali ditunjukkan, ketika ia membantu seorang pesilat yang sedang dikeroyok oleh sekelompok pesilat lain. Bagaimanapun juga, ia selalu berusaha untuk tidak menyombongkan diri dan menerapkan pesan pendahulunya, yaitu “tidak mengungkapkan keahlian Wing Chun Kuen kepada orang lain”.

Wong Wah Bo Dan Leung Yee Tei

Walaupun ia menutup mulut tentang Wing Chun Kuen, Leung Lan Kwai meneruskan teknik ini kepada Wong Wah Bo, walaupun secara kebetulan. Wong Wah Bo adalah seorang aktor dari perkumpulan opera Cina. Pada jaman ini, aktor opera Cina disebut “Pengikut Perahu Merah (The Red Junk)”. Leung Lan Kwai sebenarnya tidak ingin menerima murid, tetapi sifat-sifat Wong Wah Bo yang memiliki rasa keadilan yang tinggi membuat Leung Lan Kwai bersedia menerimanya sebagai murid.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak dari para pengikut perahu merah mengerti kung fu. Karena riasan yang mereka kenakan saat tampil di panggung, identitas mereka sulit diketahui. Itulah sebabnya banyak pengikut Shao Lin bergabung dengan perkumpulan opera ini untuk bersembunyi dari kejaran pemerintah Manchuria. Tetapi menyimpan rahasia tetap merupakan hal yang sulit. Banyak dari para pengikut Shao Lin yang membuka rahasianya kepada orang yang mereka percaya. Untungnya tidak ada di antara orang kepercayaan ini yang melaporkannya ke pemerintah Manchuria. Salah satu dari pengikut Shao Lin ini adalah Master Chi Sin, yang sudah diceritakan pada awal cerita ini. Ia menjadi pahlawan perkumpulan ini dan mengajarkan kepada mereka teknik-teknik bela diri Shao Lin dan mempersiapkan mereka untuk melawan pemerintah Manchuria jika saatnya tiba.

Salah satu murid Master Chi Sin adalah Leung Yee Tei. Ia bukan aktor tetapi salah satu petugas kapal yang bertugas mengemudikan perahu dengan menggunakan tongkat panjang. Di antara semua teknik yang diajarkan Master Chi Sin, yang sangat dikaguminya adalah teknik menggunakan tongkat panjang. Untung bagi Leung Yee Tei, Master Chi Sin adalah ahli menggunakan “tongkat panjang enam setengah point” dan menganggap Leung Yee Tei cukup pantas untuk menjadi penerus teknik ini.

Wong Wah Bo sang aktor adalah salah satu penghuni kapal yang dikemudikan Leung Yee Tei. Ia sangat mengagumi teknik tongkat Leung Yee Tei, sebaliknya Leung Yee Tei mangagumi teknik Wing Chun dari Wong Wah Bo. Mereka saling bertukar pengetahuan. Hasilnya Leung Yee Tei menjadi penerus teknik Wing Chun dan teknik Wing Chun sendiri bertambah dengan masuknya teknik tongkat panjang enam setengah point, di samping teknik golok Pa Chan Tao yang sudah ada dalam Wing Chun. Saat bertukar kepandaian, mereka menyadari bahwa mereka dapat meningkatkan kemampuan masing-masing dengan menambahkan hal-hal yang telah mereka pelajari satu sama lain. Contohnya, teknik tongkat panjang enam setengah point dapat diperbaiki dengan memasukkan teknik Wing Chun ke dalamnya. Mereka lalu menerapkan teknik Chi Sau (tangan menempel) dan berhasil menciptakan teknik yang diberi nama Chi Kwun (tongkat menempel). Lebih jauh lagi, mereka berhasil meningkatkan daya guna tongkat dengan mengurangi jarak antara kedua lengan yang memegang tongkat, dan mengubah gerak kakinya menjadi seperti gerak kaki gaya tangan kosong.

Leung Jan Dari Fat Shan

Di masa tuanya Leung Yee Tei meneruskan teknik-teknik Wing Chun dan tongkat panjang enam setengah point ke Leung Jan, seorang tabib terkenal dari Fat Shan, satu dari empat kota terkenal di propinsi Kwang Tung, Cina selatan. Fat Shan yang merupakan persilangan dari beberapa jalur transportasi ramai dekat Sungai Mutiara, adalah sebuah kota perdagangan yang terkenal dan berpenduduk padat. Banyak pejabat pemerintah, pedagang-pedagang besar, buruh, dan orang-orang biasa tinggal di sini. Leung Jan, pemilik sebuah toko obat ramuan tradisional, dibesarkan dalam keluarga yang baik, berpendidikan, dan sopan. Selain mengurus Toko Obat Jan Shan di Jalan Sumpit di Fat Shan, ia juga membuka praktek tabib. Ia cukup profesional dalam bidang ini, dan dipercaya oleh masyarakat sekitarnya. Bisnisnya maju. Di waktu senggang ia suka membaca buku, dan juga seni bela diri. Ia tak ingin sembarangan memilih guru untuk belajar bela diri. Ia tak menyukai jurus dan kuda-kuda lebar yang terlihat ganas. Sistem yang menitik beratkan kekuatan fisik dan kasar tidak disukainya, demikian juga dengan gaya-gaya indah tetapi tidak praktis untuk perkelahian. Yang ia inginkan adalah gaya yang praktis dan bermanfaat, walaupun sederhana. Bertahun-tahun ia mencari guru dan sistem bela diri yang ideal, hingga pada suatu saat ia bertemu dengan Leung Yee Tei dan belajar teknik Wing Chun darinya.

Dalam waktu yang tak terlalu lama, Leung Jan telah dijuluki “Raja Kung Fu Wing Chun”. Ketenarannya ini menarik perhatian para penantang. Orang-orang ambisius memaksa bertarung dengannya, tetapi semuanya dikalahkan dengan cepat. Jika orang-orang mendengar nama Leung Jan, mereka akan mengingat gelarnya “Raja Kung Fu Wing Chun” dan peristiwa ia mengalahkan lawan-lawannya. Sampai sekarangpun para generasi tua masih membicarakan tentangnya dengan penuh semangat.

Wah Si Manusia Kayu, Leung Tsun, Dan Wah Si Penukar Uang

Ketertarikan Leung Jan terhadap Wing Chun memaksanya untuk menerima beberapa orang murid, termasuk kedua anaknya, Leung Tsun dan Leung Bik. Walaupun demikian ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai pengajar profesional. Ia mengajari mereka Wing Chun setiap sore hari setelah selesai mengurus tokonya.

Di antara murid-muridnya ada seorang yang dijuluki Wah Si Manusia Kayu. Nama ini didapatnya karena sepasang tangannya yang kuat dan sekeras kayu. Ia sering mematahkan orang-orangan kayu pada saat latihan. Setiap sore, ia belajar Wing Chun bersama saudara-saudara seperguruannya dibawah bimbingan Leung Jan.

Di sebelah toko Leung Jan, ada kios penukaran uang milik Chan Wah Sun, yang dijuluki Wah The Money Changer (Wah Si Penukar Uang). Ia sangat ingin belajar kung fu dan ingin belajar dari guru kung fu terkenal. Karena kiosnya tepat di sebelah toko obat Leung Jan yang sangat dikaguminya, ia sangat ingin meminta Leung Jan untuk menerimannya menjadi murid. Tetapi karena Leung Jan adalah pria terhormat dari keluarga terkenal dan juga pemilik toko yang cukup berada, Wah Si Penukar Uang merasa malu untuk meminta Leung Jan mengajarinya. Lagi pula ia tidak tahu apakah Leung Jan bersedia menerimanya atau tidak. Tetapi keinginannya yang kuat dan rasa hormatnya terhadap Leung Jan memberikan harapan besar baginya. Setiap hari sesudah segala pekerjaan selesai dan jalan mulai sepi, ia mengendap-endap ke pintu Leung Jan dan mengintipnya mengajar kung fu dari celah pintu. Leung Jan menjadi idolanya. Setiap gerakan tangan dan kakinya ia pelajari baik-baik dan sangat membekas pada dirinya. Semakin hari keinginannya untuk belajar menjadi semakin tebal.

Suatu hari ia merasa sudah saatnya untuk datang pada Leung Jan dan memintanya mengajari kung fu. Tepat seperti dugaannya Leung Jan menolak dengan halus. Ia kecewa, tetapi tidak putus asa. Ia memikirkan cara untuk memenuhi keinginannya. Pada saat Leung Jan sedang tidak berada di tokonya dan Leung Tsun, anak tertua Leung Jan, sedang sendirian, Wah Si Manusia Kayu membawa seseorang datang ke toko obat Leung Jan. Orang ini sesungguhnya adalah Wah Si Penukar Uang. Leung Tsun, yang merasa lebih hebat, menerima tantangan ini, untuk menguji seberapa tinggi pengetahuan sang murid gelap ini. Leung Tsun sesungguhnya tidak segiat saudara seperguruannya, Wah Si Manusia Kayu, dalam mempelajari Wing Chun. Segera setelah kedua tangan mereka bersentuhan, Wah Si Penukar uang sadar bahwa lawannya tidak sehebat yang ia duga. Pada suatu ketika Wah Si Penukar Uang berhasil memasukkan sebuah pukulan lurus dan Leung Tsun pun terjatuh tepat menimpa kursi kesayangan ayahnya. Patahlah salah satu kaki kursi itu. Mereka takut dimarahi oleh Leung Jan oleh karena itu mereka lalu berusaha menyambung kembali kaki kursi itu.

Seni bela diri china ” Whing Cun “

Wing Chun

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
hina

Lambang Wing Chun

Bagian dari seri tentang
Seni bela diri Cina
Shaolinsi.JPG
Daftar seni bela diri Cina
Istilah
Tempat bersejarah
Tokoh bersejarah
Figur legendaris
Lain-lain
Kotak ini: lihat • bicara • sunting

Wing Chun (mandarin: 詠春; pinyin: yǒng chūn; secara harfiah berarti “nyanyian musim semi” atau mandarin : 永春; secara harfiah berarti “musim semi abadi”), juga dieja sebagai Ving Tsun atau Wing Tsun adalah seni bela diri Cina dan bentuk bela diri yang mengkombinasikan penyerangan dan pergulatan dan spesialisasi di pertarungan jarak dekat.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Sejarah Wing Chun lebih banyak diceritakan turun temurun dari guru ke murid, tidak ada catatan resmi mengenai siapa dan kapan diciptakan. Menurut versi Ip Man, Wing Chun diciptakan oleh Ng Mui pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722), Dinasti Qing. Setelah dihancurkannya Kuil Shaolin di Fujian oleh pasukan Qing, kepala biarawati Ng Mui mengungsi ke Gunung Daliang (大涼山) di perbatasan antara Yunnan dan Sichuan. Suatu hari, dia melihat pertarungan antara ular dan burung bangau, kemudian Ng Mui mengambil pelajaran dari mengamati pertarungan antara kedua hewan itu dan mengkombinasikannya dengan kungfu Shaolin kemudian menciptakan kungfu dengan gaya baru. Ng Mui sering membeli tahu dari seorang tukang tahu bernama Yim Yee (嚴二). Yim Yee mempunyai seorang anak perempuan bernama Yim Wingchun (嚴詠春) yang dipaksa menikah dengan Jenderal militer setempat. Ng Mui mengajari Yim Wingchun ilmu kungfu barunya untuk menyingkirkan Jenderal setempat itu untuk selamanya dan akhirnya berhasil. Yim Wingchun kemudian menurunkan ilmunya kepada Leung BokChao (梁博儔), suaminya sendiri. Pemakaian nama “Wing Chun” dimulai pada saat itu.

[sunting] Karakteristik

Wing Chun adalah sebuah bentuk seni bela diri yang sangat unik, spesialisasi pada pertarungan jarak dekat, memakai pukulan cepat dan tendangan dengan pertahanan yang ketat serta ketangkasan gerak kaki untuk mempercepat gerak maju. Wing Chun yang efektif dapat dicapai dengan kordinasi antara serangan dan pertahanan yang serentak dan serangan balik. Dari hal tersebut Wing Chun menjadi suatu ilmu bela diri yang baik dalam hal pertahanan diri. Seorang murid harus belajar untuk mengantarkan jumlah energi yang tepat dengan keadaan santai. Guru Wing Chun yang baik akan mengajarkan muridnya untuk mengatasi keadaan dengan mengatur posisi dan mengelak daripada menghadapi langsung. Gaya Wing Chun meliputi tendangan, menangkis, serangan beruntun, tinju, menjebak dan mengontrol teknik sebagai bagian dari pertarungan itu sendiri.

[sunting] Latihan Dasar

[sunting] Kuda Kuda

Kuda-kuda (English :Stance) dianggap sebagian besar praktisi beladiri modern sebagai sesuatu yang kuno dan kurang berguna, namun sebenarnya banyak aspek yang terkandung di dalam latihan kuda-kuda. Kuda-kuda dalam beladiri internal adalah aspek Di (Bumi), dalam teknik tenaga dalam kuda-kuda sangat dibutuhkan dalam aspek Tenaga Bumi. Latihan Kuda-kuda banyak fungsinya, asalkan kita mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi Kita saat melakukan Kuda-kuda.

Cara yang paling gampang adalah visualisasi energi Chi kita sebagai Cahaya Putih. Kalau kita ingin memperkuat Kaki kita, lakukan aliran Chi ke Kaki, begitu juga kalau mau ke tangan. Kalau ingin memencarkan Chi ke seluruh tubuh, maka lakukanlah pernapasan biasa, dan tahan di Dan Dian (pusat energi Chi, terletak 3 jari tangan kanan di bawah pusar ) lalu sebarkan ke seluruh tubuh.

Kuda-kuda yang dilakukan yang banyak ditentang oleh praktisi modern adalah efektivitasnya dalam pertarungan. Pertarungan maupun teknik beladiri mengalami banyak sekali perubahan dan transformasi serta evolusi. Dimana dulu pertarungan memakai tenaga, sekarang lebih ke teknik. Banyak praktisi beladiri konservatif yang selalu mempertahankan bentuk kuda-kuda saat mereka Fighting. hal ini memengaruhi efektifitas dan efisiensi gerakan mereka sendiri. Dimana sekarang standing style dari kebanyakan beladiri lebih fleksibel daripada pemakaian kuda-kuda.

Seperti salah satu evolusioner Kungfu Wing Chun, Alm. GM. Bruce Lee ( Lee Siao Lung ) pernah menganalisa berbagai beladiri. tercatat beberapa beladiri dianalisa beliau dan diimplementasikan serta diokulasi ke dalam Wing Chun yaitu Taekwondo, Karate Kempo, Jujutsu, Thai Chi, FMA, dll. Menurut Beliau, Kuda-kuda besar, akan menghasilkan tenaga yang besar, namun kecepatannya akan melambat. Begitu juga kuda-kuda yang kecil akan menghasilkan tenaga yang kecil, namun cepat. kuda-kuda bentuk sedang yang diajarkan Beliau adalah hasil analisa terbaik menurut beliau.

Kuda-kuda dalam Wing Chun disebut juga kuda-kuda San Zhan ( atau Kuda-kuda Gunung) atau dalam bahasa Jepang disebut San Chin Daiichi. Pelatihan pertama adalah latihan Kuda-kuda tetap. Dalam teknik ini, dilatih kekuatan jari kaki, telapak Pisau kaki , samping kaki, paha, tulang belakang, tulang ekor, kestablian, serta kordinasi otot. Kuda-kuda ini kalau latihan digenjot akan meningkatkan teknik flesiblelitas teknik langkah, sehingga badan semakin ringan.

Ada 3 macam pergeseran kuda – kuda dalam wing chun (mandarin : Hang Ma) diantaranya :

1. Hang Ma di tempat ( One Spot Body Movement Step )

Pada style ini, Hang Ma menitik beratkan pada salah satu titik di salah satu kaki. dimana pusa pergeseran paling besar adalah di pinggang. pada Hang Ma ini, sangat ditekankan pada rotasi pada pinggang. Hang Ma ini sangat berguna pada pertarungan, dimana kita bisa langsung memutar badan ke arah lain tanpa bertukar tempat. Contoh, saat kita sedang menghadapi lawan di sebelah kiri, maka jika ada penyerang dari sebelah kanan, kita langsung beralih ke sebelah kanan, begitu juga saat posisi depan dan belakang.

2. Hang Ma maju dan mundur satu kaki ( Same Leg Body Movement Step )

Pada style ini, kita bisa bergerak dalam kondisi menyerang, dimana seperti style pada beberapa macam beladiri, waktu kita maju, kaki depan maju dahulu, waktu mundur, kaki belakang mundur duluan, waktu ke kiri, kaki kiri duluan, dan waktu ke kanan, kaki kanan duluan.

3. Hang Ma Ganti Kaki ( Change Leg Body Movement Step )

Pada style ini kita bisa bergerak menyerang, bertahan ataupun melakukan serangan sembari bertahan. Sebenarnya masih ada satu lagi posisi kaki, yaitu posisi berdiri satu kaki, namun kebanyakan posisi ini hanya untuk latihan atau pun pada posisi tertentu. latihan posisi ini sangat berguna saat bertarung di tempat yang tidak rata. aplikasi latihan ini akan bermanfaat saat kita melatih teknik kedua yaitu Chum Kiu dan latihan tenaga Biu Gee.

[sunting] Cabang Wing Chun

Garis keturunan enam generasi pertama Wing Chun

Wing Chun memiliki banyak cabang karena biasanya masing – masing guru mempunyai beberapa murid yang akhirnya menyebar ke penjuru dunia. Begitu juga halnya dengan Leung BokChao memiliki tiga orang murid yaitu Leung Yeetai, Wong Wahbo dan Dai Fa Minkam.

Cabang – cabang Wing Chun yang ada diantaranya :

  • Ip Man
  • Yiu Kai
  • Jiu Wan
  • Gulao (Desa Koo Lo)
  • Pan Nam
  • Yuen Kay-San
  • Nguyễn Tế-Công (Wing Chun Vietnam 永春)
  • Keluarga Cho
  • Hung Fa Yi / Hung Suen Wing Chun Kuen
  • Pao Fa Lien
  • Fut Sao (Tangan Buddha)

Dari semua cabang Wing Chun yang ada, cabang Ip Man lah yang paling terkenal dan berkembang pesat sampai mancanegara.

[sunting] Cabang Ip Man

Samuel Kwok (kiri) dan Ip Ching (kanan) mempraktekkan jurus “Chi Sau”

Ip Man sangat dihormati oleh instruktur bela diri lainnya di Foshan dan Hong Kong. Dia adalah orang pertama yang mengajar Wing Chun kepada khayalak ramai. Setelah kematiannya, kebanyakan dari muridnya membentuk perguruan Wing Chun sendiri. Karena Yip Man sangat terkenal, kisah kehidupannya dan Wing Chun dibuat menjadi film layar lebar diantaranya Ip man 1, Ip Man 2 dan The Legend Is Born – Ip Man.

Murid terkemuka dari Ip Man diantaranya adalah Lun Gai, Gwok Fu, Leung Sheung (梁相), Lok Yiu (駱耀), Chu Shong-tin(徐尚田), Wong Shun Leung(黃淳樑), Wang Kiu (王喬), Yip Bo Ching (葉步青), William Cheung, Hawkins Cheung, Bruce Lee, Lo Man Kam, Wong Long, Wong Chok, Law Bing, Lee Shing, Ho Kam-Ming, Moy Yat, Duncan Leung, Derek Fung (馮平波 Fung Ping Bor), Chris Chan (陳成 Chan Shing), Victor Kan, Stanley Chan, Chow Sze Chuen, Tam Lai, Ip Ching, Ip Chun, Lee Che Kong, Kang Sin Sin ( Kwong Sun Sun )dan Leung Ting (梁挺).

Salah satu praktisi Wing Chun dari cabang Ip man adalah Samuel Kwok, yang diturunkan dari Ip Ching dan Ip Chun, kedua putera Ip Man. Samuel Kwok menyebarkan Wing Chun sampai ke mancanegara seperti Inggris, Amerika, Eropa, Singapura, Australia, Indonesia dan Afrika.

[sunting] Cabang Yiu Kai

Yiu Kai belajar Wing Chun dari ayahnya seperti halnya murid dari Chan Wahshun, Ng Chungsok.

Muridnya yang terkemuka diantaranya adalah Leung Keung, Wai-Po Tang. Ayah dari Yiu Kai adalah Yiu Choi (dieja Yoo Choy pada tahun 1920an’,30an’40an’50an’ & 60an’). Cabang Wing Chun Yoo-Choy (Yiu-Choi) disebut dengan ‘Arus tangan ular’.

[sunting] Wing Chun Indonesia

[sunting] Wing Chun Bendera Hitam

Wing Chun Bendera hitam atau lebih dikenal dengan “Hek Ki Boen Eng Chun Kun” adalah aliran ilmu bela diri Wing Chun yang berasal dari propinsi Fujian (Hokkian), Cina. Seorang praktisi Wing Chun, Guru Besar Tjia Fun Jia bermigrasi ke Indonesia dan kemudian melanjutkan pengembangan Wing Chun sebagai cabang perguruan.

[sunting] Wing Chun Kungfu Academy

Di Indonesia ada sebuah Perguruan Wing Chun resmi aliran Ip Man yang bernama “Wing Chun Kungfu Academy Indonesia“, salah satu pendirinya yaitu Suwanto Lim, seorang praktisi Wing Chun yang berdomisili di kota Medan, Sumatera Utara.

[sunting] Praktisi Wing Chun

Praktisi Wing Chun yang terkenal :

[sunting] Referensi

  • Chu, Robert; Ritchie, Rene; & Wu, Y. (1998). Complete Wing Chun: The Definitive Guide to Wing Chun’s History and Traditions. Boston: Tuttle Publishing. ISBN 0-8048-3141-6.
  • 永春 in usage : Leung Ting, Roots and Branches of Wing Tsun and Robert Chu, Rene Ritchie, Y. Wu, Complete Wing Chun: The Definitive Guide to Wing Chun’s History and Traditions and Ritchie, Rene, “What’s in a name?”
  • Inilah.com, Deklarasi berdirinya Asosiasi Bela Diri Wing Chun Indonesia.
  • Samuel Kwok Homepage – Preserving the Wing Chun Kung Fu of Ip Man. http://www.kwokwingchun.co.uk/

Makalah tugas kuliah ULUMUL QUR’AN ” QIRO’AT DAN MUNASABAH DALAM ULUMUL QUR’AN “

ILMU QIRO’AT DAN MUNASABAH DALAM ULULMUL QUR’AN

TUGAS MAKALAH DI AJUKAN SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH ULUMUL QUR’AN

 

DOSEN PEMBIMBING : Drs. Untung Khoiruddin, M.Pd.I

DI SUSUN OLEH :

EDI SUHARTANTO

 

MOCHAMMAD ZACKY SATRIA PERMANA

INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI KEDIRI

FAKULTAS DAKWAH PRODI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

2011

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………. i

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………  ii

BAB I

PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………………  1

BAB II

POKOK BAHASAN …………………………………………………………………………………..  2

1. QIRO’AH AL QUR’AN ………………………………………………………………………….  2

A. Pengertian ………………………………………………………………………………………  2

B. Macam – macam Qiro’ah ………………………………………………………………….  3

C. Faedah Qiro’ah shohih ……………………………………………………………………..  3

2. MUNASABAH AL QUR’AN ………………………………………………………………….  4

A. Pengertian ………………………………………………………………………………………  4

B. Dasar pemikiran ………………………………………………………………………………  5

C. Relevansi Munasabah dengan tafsir ……………………………………………………  5

BAB III

KESIMPULAN …………………………………………………………………………………………..  7

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………….  8

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirrakhim

 

 Puji syukur hanya bagi alloh yang telah menganugerahkan sedikit ilmu-Nya kepada manusia.

Sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar, Muhammad saw yang membawa sedikit ilmu Alloh dan memberi contoh bagaimana mengamalkan ilmu itu.

Dewasa ini sudah jarang orang mempelajari Al Qur’an beserta ilmunya. Banyak yang hanya mengkoleksi kitab,mp 3 dan lain sebagainya nya akan tetapi jarang yang ingin mempelajari Al Qur’an beserta ilmu – ilmunya. Banyak yang menganggap,bahwa Al Qur’an hanya sesuatu hal yang biasa, padahal bila di teliti banyak para ilmuwan islam maupun barat menemukan suatu penemuan dari hasil mempelajari AL Qur’an dalam hal ilmu pengetahuan dan tecnologi, di samping karena ke jeniusan yang di miliki oleh individu ilmuwan – ilmuwan tersebut.

Di lihat dari itu semua, IAI Tribakti kediri memasukkan salah satu kajian ilmu Ulmul Al Qur’an dalam  proses belajar mengajar di Fakultas Dakwah.

Dalam hal ini kami mengangkat tema judul makalah “ ILMU QIRO’AT DAN MUNASABAH DALAM AL QUR’AN “ yang berisi ilmu cara melafalkan Al Qur’an dan ilmu mempelajari rahasia keserasian kalimah demi kalimah dalam Al Qur’an.

Semoga tugas makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua pembaca pada umumnya. Kritik yang membangun sangat penulis harapkan karena makalah ini jauh dari kata sempurna. Hanya Alloh jua-lah yang maha sempurna.

Sukron katsiron

Walhamdulillahirobbil a’lamin

Kediri , 2 April 2011

                                                                                                                                                                                                                                       ( Penulis )

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Al-qur’an adalah kalammullah yang diturunkan kepada nabi muhammad lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya. Selain sebagai sumber ilmu,Al Qur’an juga mempunyai ilmu dalam membacanya.

Dalam surat Al Isro’,Alloh swt telah berfirman :

               إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isra : 9)

Juga telah di sebutkan dalam sebuah hadits ,Sabda Rasulullah saw,“Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf akan tetapi alih satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Begitu besar keagungan Al Qur’an  sampai – sampai dalam membacanyapun harus di sertai ilmu membaca yang di sebut ilmu qiro’at,karena di kawatirkan apabila dalam membaca Al Qur’an tidak di sertai ilmunya akan berakibat berubahnya arti,maksud serta tujuan dalam setiap firman yang tertulis dalam Al Qur’an.

Selain ilmu qiro’at,Al Qur’an juga suatu rangkain kalimat yang serasi satu dengan yang lainnya.keserasian kalimat antar kalimat,ayat antar ayat sampai kepada surat antar surat membuat Al Qur’an di juluki suatu rangkain syair yang begitu indah mustahil untuk di serupai.dalam rangkaian UlumulQur’an,keserasian dalam Al Qur’an di sebut Munasabah Al Qur’an.


BAB II

POKOK BAHASAN


1. QIRO’AH AL QUR’AN

A. Pengertian qiro’ah

Qiro’ah adalah ilmu yng mempelajari cara-cara mengucapkan kata-kata al-qur’an dan perbedaan-perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.. Jadi dalam membaca Al qur’an kita akan menjumpai beberapa bacaan yang berbeda dalam membaca  al qur’an. Tiap – tiap qoro’ah ada imam nya masing-masing. Hal tersebut tidak mempengaruhi arti dalam al qur’an karena para imam – imam tersebut mengambil ilmu qiro’ah nya langsung dari beliau nabi Muhammad saw.telah di sebutkan dalam hadits nabi,antara lain :

1. “ Jibril membacakan (Al-Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf “. [HR Bukhari – Muslim]

2 “ .Dari umar bin khathab, ia berkata, “aku mendengar hisyam bin hakim membaca surat al-furqon di masa hidup rasulullah. aku perhatikan bacaannya. tiba-tiba ia membaca dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku urungkan. maka, aku menunggunya sampai salam. begitu selesai, aku tarik pakaiannya dan aku katakan kepadanya, ‘siapakah yang mengajarkan bacaan surat itu kepadamu?’ ia menjawab, ‘rasulullah yang membacakannya kepadaku. lalu aku katakan kepadanya, ‘kamu dusta! demi Allah, rasulullah telah membacakan juga kepadaku surat yang sama, tetapi tidak seperti bacaanmu. kemudian aku bawa dia menghadap rasulullah, dan aku ceritaan kepadanya bahwa aku telah mendengar orang ini membaca surat al-furqon dengan huruf-huruf (bacaan) yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surat al-furqon kepadaku. maka rasulullah berkata, ‘lepaskanlah dia, hai umar. bacalah surat tadi wahai hisyam!’ hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan.’ ia berkata lagi, ‘bacalah, wahai umar!’ lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan rasulullah kepadaku. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya.’” [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jarir]

Mengenai makna dari ‘tujuh huruf’ tersebut ada dua pendapat yang kuat. pertama adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab mengenai satu makna: Quraisy, Hudzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. kedua adalah tujuh macam perbedaan: Perbedaan isim, Perbedaan fi`il, Perbedaan i`rab, Perbedaan taqdim dan ta’khir, Perbedaan naqis dan ziyadah, Perbedaan ibdal, dan Perbedaan lahjah (tafkhim – tarqiq, fathah – imalah, izhar – idgham, hamzah – tashil, mad – qashr, isymam).

B. Macam – macam qiro’ah

1. Qiro’at Sab’ah ( Qiro’at tujuh ) adalah imam-imam qiro’at ada tujuh orang, yaitu:
a. ‘Abdullah bin Katsir Ad-Dari (w.120 H ) dari Mekkah.
b. Nafi’ bin ‘Abdurrahman bin Abu Na’im (w .169 H ).dari madinah
c. ‘Abdullah Al-yashibi (w.118 H ) dari Syam
d. Abu Amar (w.154 H ) dari Irak
e. Ya’kub (w.205 H ) dari Irak
f. Hamzah (w.188 )
g. ‘Ashim (w.127 H )

2. Qiro’ah Asyiroh adalah qiro’ah sab’ah ditambah dengan 3 imam yaitu: Abu Ja’far, Ya’kub bin Ishaq, kalaf bin hisyam

3. Qiro’ah Arba Asyiroh (qiro’ah empat belas) yaitu qiro’ah sepuluh ditambah dengan 4 imam yaitu Al-hasan al basri, muhammad bin abdul rohman,yahya bin mubarok,Abu fajr muhammad bin ahmad.

Dari segi kualitas qiro’ah dapat dibagi menjadi :

1. Qiro’ah Mutawwatir yaitu qiro’ah yang disampakan kelompok orang yang sanatnya tidak berbuat dusta

2. Qiro’ah Mashur yaitu qiro’ah yang memiliki sanad sahih dan mutawatir

3. Qiro’ah ahad yaitu memiliki sanad sahih tapi menyalahi tulisan mushaf usmani dan kaidah bahasa Arab

4. Qiro’ah Maudhu yaitu palsu

5. Qiroah Syadz Yaitu menyimpang

6. Qiro’ah yang menyerupai hadist mudroj (sisipan)

C. Faedah qiro’ah shohih

Orang – orang yang menguasai Al qur’an adalah mereka oaring – orang yang dapat di percaya dan imam demi imam sampai kepada nabi Muhammad SAW, oleh karenanya ketika Utsman RA menyampaikan mushaf keseluruh pelosok,beliau mengirimkan pula orang yang sesuai bacaannya dengan masing – masing mushaf yang di turunkan. Juga menjaga kemurnian Al qur’an sesuai dengan Rosullulloh SAW.

2. Munasabah Al Qur’an

A. Pengertian munasabah

1. Secara Etimologi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Munasabah berarti cocok, sesuai, tepat benar, kesesuaian, kesamaan.Adapun Menurut IMAM AL ZARKASYI kata munasabah menurut bahasa adalah mukorobah [mendekati], seperti dalam contoh kalimat : Fulan yunasibu fulan (fulan mendekati / menyerupai fulan). Kata nasib adalah kerabat dekat, seperti dua saudara saudara sepupu, dan semacamnya. Jika keduanya munasabah dalam pengertian saling terkait, maka dinamakan qarabah (kerabat).

2. Secara Terminologi

Munasabah merupakan satu disiplin ilmu yg membicarakan tentang pertautan antara ayat-ayat Al-Qur’an atau antara surah-surahnya berdasarkan penyusunan dalam mushaf. IMAM ZARKASYI sendiri memaknai munasabah sebagai ilmu yang mengaitkan pada bagian-bagian permulaan ayat dan akhirnya. Pendapat lain mengatakan bahwa munasabah merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk mengetahui alasan-alasan penertiban bagian-bagian dari al-Qur’an. Istilah lain yang digunakan ulama untuk munasabah sangat banyak, antara lain Irthibath, Ittishal, Ta’li,l Ta’alul, dan  Tartib. Istilah tersebut memiliki kesamaan  pengertian yaitu hubungan, relevansi dan kaitan.

Menurut Manna Al-qathan munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat,atau antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat dalam al-qur’an. As-Suyuti menjelaskan langkah-langkah yang diperhatikan dalam menemukan munasabah yaitu:

a. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian.

b. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.

c. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu apakah ada hubungannya atau tidak.

d. Dalam mengambil keputusan,hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkspan dengan benar dan tidak berlebihan.

Macam-macam munasabah :

1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya: berfungsi sebagai menyempurnakan surat    sebelumnya.

2. Munasabah antara nama surat dan tujuan turunya.

3. Munasabah antar bagian suatu ayat.

4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan.

5. Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya.

6. Munasabah antara fashilah (pemisah)dan isi ayat.

7. Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama.

8. Munasabah antara penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya.

B. Dasar pemikiran Munasabah

Sebagaimana kita ketahui, bahwa sejarah munculnya kajian tentang munasabah tidak terjadi pada masa Rasulullah, melainkan setelah berlalu sekitar tiga atau empat abad setelah masa beliau. Hal ini berarti, bahwa kajian ini bersifat taufiqi (pendapat para ulama). Karena itu, keberadaannya tetap sebagai hasil pemikiran manusia (para ahli ‘Ulumul-Quran), yang bersifat relatif, mengandung kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Sama halnya dengan hasil pemikiran manusia pada umumnya, yang bersifat relatif (Zhanniy).

Sungguhpun keberadaannya mengandung nilai kebenaran yang relatif, namun dasar pemikiran tentang adanya munasabah dalam Alquran ini berpijak pada prinsip yang bersifat absolut. Yaitu suatu prinsip, bahwa tartib (susunan) ayat-ayat Alquran, sebagaimana kita lihat sekarang adalah bersifat Tauqifi, yakni suatu susunan yang disampaikan oleh Rasulullah berdasarkan petunjuk dari Allah (Wahyu), bukan susunan manusia.

Atas dasar pemikiran inilah, maka sesuatu yang disusun oleh Dzat Yang Maha Agung tentunya berupa susunan yang sangat teliti dan mengandung nilai-nilai filosofis (hikmah) yang sangat tinggi pula. Oleh sebab itu, secara sistematis, tentulah dalam susunan ayat-ayat Alquran terdapat korelasi, keterkaitan makna (munasabah) antara suatu ayat dengan ayat sebelumnya atau ayat sesudahnya. Karena itu pula, sebagian ulama menamakan Ilmu Munasabah ini dengan علم أســرار ترتيب الآيات و السور فى القرآن الكريم  (Ilmu tentang rahasia/hikmah susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam Alquranul-Kariem).

Berbeda dengan susunan ayat-ayat dalam setiap surat yang oleh para ulama disepakati sebagai susunan yang bersifat tauqifi, maka susunan surat-surat dalam Alquran masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah bersifat taqifi atau tafiqi. Bagi kalangan ulama yang beranggapan bahwa susunan surat-surat dalam Alquran bersifat tauqifi, maka munasabah antar surat tidak mesti ada. Sedangkan bagi ulama yang berpendapat susunan surat-surat Alquran bersifat tauqifi, maka munasabah antar surat mesti ada.

C. Relevansi Munasabah dengan tafsir

Seperti sudah di bahas sebelumnya Munasabah merupakan satu disiplin ilmu yg membicarakan tentang pertautan antara ayat-ayat Al Qur’an atau antara surah-surahnya berdasarkan penyusunannya dalam mushaf. Dalam proses memahami isi kandungan Al Qur’an munasabah jarang sekali dikatakan sebagai salah satu kaidah penafsiran. Ia kurang populer di kalangan para Mufasir karena di kategorikan sebagai ilmu yang sukar didalami dan dipahami. Lebih-lebih lagi apabila terdapat alternative lain yang dianggap lebih mudah dan senang di pelajari. Ini mengakibatkan penguasaan terhadapnya semakin di abaikan.

Penguasaan seseorang dalam munasabah akan membantu mengetahui mutu dan tingkat kebalagahan al-Qur’an serta konteks kalimatnya antara satu dengan yang lain. Munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surat al-Qur’an secara utuh tanpa adanya penafsiran yang sepenggal-sepenggal terhadap  ayat ayat al-Qur’an yang tentu saja dapat mengakibatkan penyimpangan dan kekeliruan dalam penafsiran.

Akan tetapi suatu hal ynang penting bagi ummat Islam adanya upaya untuk menafsirkan ulang teks al-Qur’an yang telah dilakukan oleh orientalis-orientalis barat yang tentu mereka menafsirkan bukan atas dasar keimanan , melainkan berdasarkan akal dan sisi historis sebuah teks ayat. Yang seharusnya ummat Islam meyakini al-Qur’an adalah merupakan Wahyu Tuhan yang turun melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, bukan merupakan teks hasil karya manusia yang bias secara serampangan di tafsirkan dengan dalih lebih ilmiah, tanpa memperdulikan metode penafsiran yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari berbagai generasi.

BAB III

KESIMPULAN

 

Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan sebagai sumber petunjuk manusia (hudaa linnaas) yang berfungsi menghubungkan dirinya dengan Allah dalam ubudiyah dan sesama makhluk dalam mu’amalah (habluminallah dan habluminannaas) berisikan tentang tauhid, hokum-hukum, mu’amalah, ibadah, dan lain sebagainya.

Kewajiban bagi setiad invidu yang mengaku dirinya beragama islam untuk memahami dan menghayati isi kandungan al-Qur’an untuk dalam proses selajutnya adalah pengamalan yang menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Qiro’ah Al Qur’an sebagai tata cara mengucapkan lafal kalimah Al Qur’an yang baik dan benar. Setiap Qiro’ah di nisbatkan kepada imamnya masing-masing agar mempermudah dalam pembacaan Al Qur’an di setiap indifidu. Sedangkan Munasabah adalah sebuah metodelogi dari salah satu upaya memahami al-qur’an dari sisi keterkaitan antar ayat maupun surat itu sendiri, baik dari sifat maupun konteksnya, tanpa terlepas dari kaidah kaidah yang di tetapkan para ulama islam dalam menafsirkan al-Qur’an.

Jika sebagian orang tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur’an, sedangkan orang lain dapat memahaminya, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan oleh Allah. Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang diwahyukan dalam al-Qur’an hidup dalam keadaan menderita dan berada dalam kesulitan. Ironisnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaan mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Wahid Ramli.Drs, Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002

Al-Qathan, Manna Khalil, Studi Ilmu Qur’an, Jakarta:  pustaka Islamiyah, 1998.

Badr al-Din al-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qur’an, Beirut : Dar al-Ma’rifah li al-Tiba’ah wa al-Nasyr, 1972.

Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas : Tentang Transformasi Intelektual, Ahsin Mohammad (penterjemah), Bandung : Penerbit Pustaka, 1995.

Hasbi, Muhammad, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Semarang: Pustaka rizki Putra, 2002.

Imad al-Din Abu al-Fida’ Islamil Ib Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Beirut : Dar al-Fikr, 1966.

Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi al-Ulum al-Qur’an, Damaskus : Dar al-Fikr, 1979, Juz I

Manna’ al-Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Riyadh : Mansyurat al-Ashr al-Hadits

NOKIA 6300

Spesifikasi teknik

  • Desain modern yang padat menyatukan cover stainless-steel yang canggih, permukaan yang hitam mengkilap, dan pinggiran yang bulat
  • Lampu peringatan untuk mengingatkan Anda terhadap panggilan tak terjawab dan pesan yang belum dibaca
  • Tangkap dan simpan momen berharga dengan kamera 2 megapiksel dengan 8x zoom digital
  • Key volume samping secara mudah berperan sebagai kontrol zoom untuk kamera dalam mengambil gambar close-up
  • Dapatkan hiburan saat Anda menginginkannya dengan music player, radio stereo FM, dan video player
  • Lihat lebih banyak dari sekilas dengan layar beresolusi 240 x 320 piksel dengan 16 juta true color
  • Akses email Anda pada saat bepergian dan kirim pesan dengan attachment
  • Simpan musik, video, dan foto dengan memori 2 GB yang dapat diupgrade
  • Jangkauan GSM/EDGE (900/1800/1900 MHz; 850/1800/1900 MHz)
  • Volume: 56 cc
  • Berat: 91 g
  • Panjang: 106.4 mm
  • Lebar: 43.6 mm
  • Ketebalan: 13.1 mm
  • Layar utama: 2 inci 240 x 320 piksel (TFT) QVGA dengan 16,7 juta true color
  • Antarmuka pengguna Seri 40 baru yang ditingkatkan
  • Kamera 2 megapiksel dengan 8x zoom digital
  • Viewfinder layar penuh
  • Perekam video dan video player
  • Music player mendukung MP3, MIDI, AAC, AAC+, eAAC+, WMA
  • Radio stereo FM dengan Visual Radio
  • Streaming video (3GPP)
  • DRM rilis 2.0
  • Browser xHTML
  • Java: MIDP 2.0
  • Macromedia Flash Lite 2.0 untuk konten digital yang lebih kaya
  • Email klien dengan attachment (versi Java)
  • MMS: OMA MMS 1.2 untuk membuat, menerima, mengedit dan mengirim pesan multimedia (pesan mencapai 300 KB)
  • Push to talk
  • Pesan instan
  • Olah pesan Nokia Xpress Audio(AMS) – cara cepat dan sederhana untuk mengirim klip suara via MMS
  • 3D Soccer, Snake 3
  • Memori pengguna internal mencapai 7.8 MB
  • Memori yang dapat diupgrade: kartu microSD mencapai 2 GB
  • Permainan dan aplikasi JavaTM MIDP 2.0
  • Bluetooth versi 2.0 dengan Rate Data yang ditingkatkan (meliputi akses SIM dan profil Headset dan Handsfree) dan dukungan stereo untuk headset
  • Sinkronisasi data perangkat-ke-perangkat secara lokal dan jarak jauh dengan SyncML (kalender, daftar yang harus dilakukan, buku telepon)
  • Ketentuan Klien OMA penuh
  • Sinkronisasi PC menggunakan Nokia PC Suite dengan konektivitas USB dan Bluetooth
  • EDGE (EGPRS): Kelas 10
  • GPRS: Kelas 10
  • HSCSD (High-Speed Circuit-Switched Data)* / CSD (Circuit-Switched Data)

* Harap diperhatikan bahwa layanan ini memerlukan dukungan jaringan.

  • Organiser dengan kalender, Daftar yang harus dialkukan, dan catatan
  • Kontak (mencapai 1000)
  • Jam alarm dan timer penghitung mundur (timer normal dan interval)
  • Loudspeaker yang terintegrasi untuk speaker handsfree yang terintegrasi
  • Push to talk (Nokia PoC 1.1)
  • Perintah suara dan perekam suara
  • Nada dering MP3, True tone, dan nada MIDI untuk 64-chord/suara nada dering poliponik MIDI
  • Nada dering video
  • Mode flight dan demo
  • FOTA – Update firmware over the air
  • Ponsel Nokia 6300
  • Baterai Nokia BL-4C
  • Charger Nokia AC-3
  • Headset Stereo Nokia HS-47
  • Panduan Pengguna Nokia
  • CD-ROM
  • Kartu microSD 128 MB MU-26
  • Kantong
Baterai Waktu bicara* Waktu siaga*
Baterai BL-4C Sampai 3.5 jam Sampai 336 jam

* Waktu operasi tergantung pada jaringan dan penggunaan.

Keberadaan produk dan fiturnya tergantung pada daerah dan penyedia jasa layanan Anda, maka silakan hubungi mereka dan dealer Nokia Anda untuk informasi lebih lanjut. Spesifikasi ini dapat berubah tanpa pemberitahuan.

nasakh mansukh al qur’an

TAFSIR AL-BAQARAH AYAT : 240 (Wasiat Bagi Seorang Istri Untuk Tinggal Selama Setahun di Rumah Suaminya yang Meninggal)

Dalam ayat berikut Allah Ta’ala masih menjelaskan apa-apa yang berhubungan dengan hak-hak wanita yang suaminya meninggal dunia, dan apa yang harus dilakukan bagi seorang suami dan ahli warisnya, serta apa yang harus dilakukan bagi seorang istri sepeninggal suaminya, setelah dijelaskan berkenaan dengan perintah agar mereka senantiasa menjaga shalat dan tidak melalaikannya akibat masalah-masalah kekeluargaan yang menimpa mereka. Allah Ta’ala berfirman:…..

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ مِن مَّعْرُوفٍ وَاللهُ عَزِيزُُ حَكِيمُُ {240}

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Baqarah: 240).

Tafsir Ayat : 240

Telah terkenal di kalangan para ahli tafsir bahwa ayat yang mulia ini telah dinasakh oleh ayat yang sebelumnya yaitu firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا……..{234}

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber-’iddah) empat bulan sepuluh hari.” (Al-Baqarah: 234).

Dan bahwasanya perintah itu adalah untuk para istri agar menunggu selama satu tahun penuh kemudian diganti (dinasakh) dengan empat bulan sepuluh hari. Mereka menjawab tentang kenapa ayat yang menasakh ini lebih dahulu; bahwa itu hanya dalam penempatan saja dan bukan lebih dulu diturunkan, karena syarat dari ayat yang menghapus adalah harus turun lebih akhir dari ayat yang dihapus. Pendapat ini tidaklah ada dalilnya, karena barangsiapa yang mencermati kedua ayat itu, maka akan jelas baginya bahwa pendapat selain itu tentang ayat ini adalah yang paling benar dan bahwa ayat pertama itu adalah wajibnya menunggu selama empat bulan sepuluh hari dalam bentuk pengharusan atas wanita, adapun dalam ayat ini adalah sebuah wasiat kepada keluarga mayyit agar membiarkan istri si mayyit itu tinggal bersama mereka selama satu tahun penuh dengan paksaan demi kepentingannya dan sebagai kebajikan kepada mayyit mereka.

Oleh karena itu Allah berfirman, { وَصِيَّةً لأَزْوَاجِهِم } “Hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya “, artinya, wasiat dari Allah kepada keluarga mayyit agar berlaku baik kepada istri mayyit dan agar mereka memberikan kebahagiaan kepadanya dan tidak mengeluarkannya. Apabila ia ingin, ia boleh menetap sesuai wasiat itu dan apabila ia menghendaki pergi, maka tidak ada dosa atasnya.

Karena itulah Allah berfirman, [فَإِنْ خَرَجْنَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ] “Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka”, yaitu berhias diri dan berpakaian indah, akan tetapi syaratnya adalah harus dengan yang patut yang tidak mengeluarkannya dari hukum-hukum agama dan pertimbangan pantas. Allah menutup ayat ini dengan dua NamaNya yang agung tersebut yang menunjukkan akan kesempurnaan keperkasaan dan kebijaksanaan, karena hukum-hukum tersebut dikeluarkan dari keperkasaanNya, dan hukum-hukum itu menunjukkan akan kesempurnaan hikmahNya, di mana Allah meletakkannya pada tempatnya yang sesuai dengannya.

Pelajarana dari Ayat :

  • Ayat tersebut mejelaskan bahwa seorang istri adalah tetap statusnya sebagai istri walaupun setelah kematian (suaminya). Jika ada yang mengatakan : “Kalau begitu, maka dia tidak halal bagi orang lain sesudah itu (tidak halal untuk menikahinya)…? Maka kita katakan: “Dia (wanita tersebut) terikat dengan masa iddahnya; dan yang menunjukkan akan hal itu (statusnya sebagai istri masih tetap) adalah bahwa apabila seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya maka ia boleh memandikan jenazahnya; kalau lah saja status keistriannya (hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum suami istri) telah putus maka niscaya tidaklah boleh baginya untuk memandikan jenazah suaminya.
  • Disyariatkan bagi seorang suami untuk berwasiat bagi istrinya agar istrinya tersebut tetap tinggal di dalam rumahnya (rumah suaminya), dan dinafkahi dari harta peninggalannya selama satu tahun penuh; dan inilah diantara faidah ayat diatas. Nah sekarang permasalahannya adalah: “Apakah hukum tersebut mansukh (dihapus) ataukah muhkam (tetap berlaku)?” dalam hal ini terdapat dua pendapat dikalangan para ulama.
    • Pendapat pertama;mengatakan bahwa hukum tersebut adalah telah mansukh (dihapus) dengan ayat:

      وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا……..{234}

      “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber-’iddah) selama empat bulan sepuluh hari.” (Al-Baqarah: 234).

      Dan dikuatkan pula dengan atsar yang terdapat dalam Shahih Bukhari, ketika Utsman radhiallahu ‘anhu ditanya, “Kenapa engkau tetapkan ayat ini (maksudnya ayat 240 tersebut diatas, pen.), dan kenapa engkau letakkan setelah ayat penghapusnya (yaitu ayat 234, pen.). padahal yang lebih utama adalah ayat yang dimansukh (dihapus) terletak sebelum ayat yang memansukhnya (menghapusnya) agar berurutan..? Maka Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menjawab, “bahwasannya tidak ada yang merubah sedikitpun dari tempatnya.” (lihat Shahih Bukhari, kitabut tafsir no hadits: 4530). Yang demikian itu karena pengurutan antara ayat-ayat adalah tauqifi (penetapannya berdasarkan wahyu, pen.) dan pada ayat ini bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat sedang ayat tersebut dibaca didalam al-Qur’an, dan ditempatnya (dalam urutannya) yang tidak mungkin diubah. Sehingga berdasarkan hal tersebut maka ayat ini adalah telah mansukh (dihapus) dari segi hukum masa ‘iddah.

    • Adapun pendapat yang kedua; bahwa ayat tersebut adalah tetap muhkam (hukumnya tetap berlaku), yang mana ia mengandung makna yang tidak bertentangan dengan ayat yang lain (yaitu ayat 234 tadi, pen.). maka dikatakan: “Bahwa ayat yang lain (ayat 234) adalah ditujukan kepada seorang istri agar menunggu masa iddah selama 4 bulan 10 hari (apabila suaminya meninggal, pen.) sedangkan ayat pada pembahasan kita (ayat 240) adalah ditujukan bagi para suami agar memberi wasiat untuk istrinya sebagaimana disebutkan (yaitu agar ia tinggal dirumah suaminya selama setahun penuh).
  • Bahwasanya Allah ‘Azza Wajalla memiliki rahmat yang sangat luas sehingga Dia mewasiatkan kepada para suami agar berwasiat untuk istrinya padahal bersamaan dengan hal itu Allah telah menjadikan didalam diri seorang suami ada rahmat bagi istrinya, sebagaimana ayat, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa mawaddah wa rahmah (kasih dan sayang). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Ruum : 21). Dan rahmat Allah ‘Azza Wajalla bagi seorang istri adalah lebih besar daripada rahmat (sayang) seorang suami kepada istrinya.
  • Bahwa seorang wanita dihalalkan baginya untuk keluar rumah suaminya (tidak menetap atau tinggal) apabila suaminya berwasiat agar ia menetap dirumahnya, dan boleh bagi istri tersebut untuk tidak melaksanakan wasiat itu. Sebagaimana ayat, “Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka”. Karena hal ini adalah berhubungan dengan (kemashlahatan) wanita tersebut, dan bukan untuk kemashlahatan suaminya.
    • Disini muncul permasalahan lain, yaitu bagaimana apabila seorang suami berwasiat kepada istrinya agar tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal..? Maka hal ini tidak ada keharusan baginya untuk melaksanakan wasiat tersebut; karena apabila tidak ada keharuskan menetap atau tinggal dirumah suaminya selama setahun, maka tidak ada keharusan melaksanakan wasiat agar tetap tidak menikah lagi adalah lebih utama lagi dari hal itu.
    • Demikian pula dapat diqiyaskan (dianalogikan) dengan hal itu pula bahwa, “Setiap orang yang berwasiat kepada seseorang dengan suatu perkara yang menyangkut (kemashlahatan) diri orang yang diberi wasiat, maka ia berhak untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan wasiat tersebut.”
  • Bahwa yang bertanggung jawab terhadap para wanita adalah para lelaki.
  • Bahwa merupakan dosa bagi para lelaki apabila seorang wanita keluar dari yang sepatutnya menurut syariat (seperti: berhias diri dan berpakaian indah, yang keluar dari batasan-batasan hukum agama dan pertimbangan pantas), berdasarkan firmanNya, “maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka”.
  • Bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang wanita keluar dari batas-batas yang ma’ruf dalam segala kondisi, yaitu apa-apa yang telah ditetapkan syariat dan ‘urf (kebiasaan) dalam masyarakat. Maka apabila ia keluar dari yang sepatutnya menurut syariat seperti dalam hal berpakaian, gaya berjalan, suara atau lainnya maka ia berdosa. Maka merupakan kewajiban bagi kita untuk mencegahnya dari hal tersebut.
  • Penetapan dua nama dari nama-nama Allah Ta’ala, yaitu Al-‘Aziz dan Al-Hakim (Maha Perkasa dan Maha Bijaksana), dan penetapan sifat-sifat yang terkandung didalam dua nama tersebut. Wallahu A’lamDikumpulkan oleh: Abu Thalhah Andri Abdul Halim
    Sumber Rujukan :
    1. Aisar Tafasir oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Maktabah al-Ulum wa al-Hikmah
    2. Tafsir al-Quran al-Karim oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi.
    3. Taisir al-Karim ar-Rahman (tafsir as-Sa’di)
  • http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=160

Hadits tentang anjuran bersholawat nabi

Rasulullah saw bersabda: “Barang-siapa yang membaca shalawat kepada-ku sekali, Allah akan memberikan balasan shalawat kepadanya sepuluh kali.”[HR. Muslim 1/288.]

Rasul saw bersabda: “Janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai hari raya, dan bacalah shalawatmu pa-daku, sesungguhnya bacaan shalawat-mu akan sampai kepadaku, di mana saja kamu berada.”[HR. Abu Dawud 2/218 shahih, Ahmad 2/367]

Rasul saw bersabda: “Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebut, dia tidak membaca shalawat kepadaku.”[HR. At-Tirmidzi 5/551, begitu juga imam hadis yang lain, lihat Shahihul Jami’ 3/25 dan Shahih At-Tirmidzi 3/177]

Rasul saw bersabda: “Sesungguh-nya Allah mempunyai para malaikat yang senantiasa berkeliling di bumi yang akan menyampaikan salam kepadaku dari umatku”. [HR. An-Nasa’i, Al-Hakim 2/421]

Rasul saw bersabda: “Tidaklah se-seorang mengucapkan salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku ke-padaku sehingga aku membalas salam-(nya).” [Abu Daud no. 2041]

Maka dari itu semua,sungguh rugi orang-orang yang tidak mau bersholawat nabi apa lagi berani mem bid’ahkan sholawat nabi. apakah golongan semacam ini masih mengharapkan safa’at beliau nabi di hari akhir kelak…wa allohu a’lam…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.